Assalamu'alaikum wahai para sahabat~
Artikel ini menceritakan tentang bagaimana ketergantungan subsidi yang berlebihan bisa berakibat sangat fatal bagi perekonomian negara.

Subsidi itu kan enak. Harga BBM murah. Biaya listrik dan air ledeng murah. Kalo perlu, semuanya aja deh disubsidi oleh pemerintah. Kenapa pemerintah nggak subsidi semua bahan kebutuhan pokok aja, sih? Kalo semua disubsidi, kan rakyat sejahtera. Rakyat jadi nggak terbebani biaya ekonomi yang tinggi. Negara yang memberikan banyak subsidi bagi rakyatnya pastilah pemerintah yang baik dan berpihak pada rakyat.

Kalau ada orang yang berpikiran sesederhana kutipan gua di atas, berarti orang tersebut belum mengerti dasar-dasar ekonomi. Ironisnya banyak yang berpikiran seperti di atas, atau mungkin lo salah satu di antaranya? Kalaupun iya, nggak apa-apa, semua orang toh harus menjalani proses belajar. Yuk, mari kita belajar ekonomi dari kenyataan sejarah.

Lho, memang apa salahnya dengan kebijakan subsidi? Bukankah subsidi itu meringankan beban ekonomi rakyat? Berarti pemerintah itu baik dong? Berarti secara ekonomi bagus dong? Jika dilihat sekilas, kebijakan subsidi itu didasari oleh niat baik, oleh upaya keberpihakan kepada rakyat. Tapi lo juga harus tahu, ada pepatah lama yang mengatakan:

The road to hell is paved with good intentions

Bahasa Indonesia-nya “Jalan ke neraka, diaspali oleh NIAT BAIK”. Niatnya sih baik, tapi niat baik saja tidak menjamin hasilnya juga akan baik. Niat baik saja tidak cukup, tapi harus dibarengi oleh pengetahuan yang benar. Kalo tidak, niat baik itulah yang menjadi pembuka jalan menuju neraka.

Dalam konteks ini, niat baik yang gua maksud adalah “subsidi untuk rakyat”, dan nerakanya adalah “kehancuran ekonomi sebuah negara”. Mungkin lo pikir gua lebay, tapi izinkan gua menjelaskan maksud gua dengan sepenggal kisah sejarah 2 negara yang ekonominya hancur lebur gara-gara kebijakan subsidi. Penasaran? Yuk, kita mulai cerita serunya!

Venezuela yang KAYA MINYAK (2000-2013)

Apa yang terlintas di benak lo ketika mendengar negara Venezuela? Perempuannya yang cantik-cantik karena sering menang Miss Universe? Atau pantai-pantainya yang indah? Kalau 10-15 tahun yang lalu, guru-guru geografi di seluruh dunia pasti akan bilang bahwa Venezuela itu identik dengan minyak bumi.

Nama Venezuela mungkin tidak sebeken Arab Saudi sebagai negara penghasil minyak. Tapi faktanya Venezuela adalah negeri yang SANGAT KAYA akan minyak, bahkan lebih kaya dari Arab Saudi. Sejak tahun 1910 hingga tahun 1940, industri minyak bumi di Venezuela berkembang pesat hingga menjadi produsen minyak terbesar no.3 di dunia, cuma kalah dari Amerika Serikat dan Uni Soviet. Puncaknya, pada laporan perusahaan minyak British Petroleum tahun 2014, Venezuela dinyatakan memiliki cadangan minyak bumi 297 milyar barel, sementara Arab Saudi “cuma” punya 265 milyar barel! Minyak bumi begitu melimpah ruah di Venezuela, mungkin bisa diibaratkan seperti negeri fiksi Wakanda yang memiliki tambang Vibranium di film Marvel Black Phanter. Di sisi lain, industri dunia pada era modern ini sangat membutuhkan minyak bumi sebagai sumber energi utama. Otomatis, selama berpuluh-puluh tahun Venezuela menjadi negara yang makmur sebagai produsen minyak.

Hingga pada tahun 2000-2013, Venezuela sempat terkenal sebagai “surga dunia”. Rakyatnya dimanjakan dengan subsidi dari pemerintah. Harga bensin di Venezuela pada bulan Juni 2013 sempat mencapai 1 sen USD per liter, atau sekitar Rp 140 per liter! Gila murah banget ya!? Bandingkan dengan harga bensin di Indonesia yang mencapai Rp 6.500 (premium) – Rp 8.900 (pertamax) pada tahun 2018 sekarang. Di Venezuela, harga bensin bahkan lebih murah daripada air mineral karena bantuan subsidi pemerintah. Nggak hanya itu, pemerintah Venezuela juga memberikan subsidi bagi rakyat untuk berbagai macam sendi kehidupan, dari subsidi perumahan, subsidi listrik, bahkan subsidi makanan, dan lain-lain. Betul-betul surga dunia ya?

Tragisnya, semua kenikmatan itu harus dibayar sangat mahal, semata-mata hanya karena niat baik yang tidak dibarengi pengetahuan ekonomi yang benar. Alhasil, semua kenikmatan surga yang diberikan kebijakan subsidi hanyalah kenyamanan sesaat. Dibalik kenyamanan itu, ada harga yang harus dibayar, dan harganya sangat mahal, yaitu kehancuran ekonomi negara Venezuela. Hanya dalam berselang beberapa tahun, atau tepatnya sejak tahun 2014, Venezuela berubah 180 derajat dari “surga dunia” menjadi “neraka dunia”. Venezuela dilanda krisis ekonomi yang sangat hebat sejak tahun 2014 bahkan belum selesai hingga saat artikel ini dibuat (Mei tahun 2018).

Kebijakan Ekonomi Hugo Chavez (1954-2013)

Mungkin lo bertanya-tanya, bagaimana mungkin perekonomian Venezuela bisa jungkir balik hanya dalam waktu singkat? Untuk menjawab hal itu, mau nggak mau gua harus membahas tokoh dibalik kebijakan subsidi Venezuela yang memimpin Venezuela dari tahun 1999-2013, yaitu mantan presiden Hugo Chavez. Chavez adalah mantan tentara yang pernah terlibat kudeta, memenangkan pemilu presiden tahun 1999 setelah berkampanye besar-besaran dengan menjanjikan keadilan sosial dan pemberantasan kemiskinan.

Hugo Chavez memiliki pribadi yang kompleks, dan bisa jadi panjang banget artikelnya kalau gua ngebahas dirinya terlalu detil. Jadi pada artikel ini, gua hanya ingin mengupas beberapa aspek yang melekat pada dirinya. Satu hal yang menjadi dasar kebijakan politiknya adalah niat baik untuk memerangi kemiskinan. Maka dibuatlah berbagai macam kebijakan populis yang memanjakan rakyatnya, bermodalkan pendapatan produksi minyak bumi yang luar biasa banyaknya.

Untuk memanjakan rakyatnya, Chavez menurunkan harga bensin sampai tinggal 1 sen US Dollar. Pada saat hal ini diberlakukan, tentu hal ini menjadi pembicaraan besar di seluruh dunia. Lihat betapa kayanya Venezuela, betapa dimanjakan rakyatnya oleh pemerintahnya yang baik hati. Kemudian, Chavez juga membangun ribuan klinik kesehatan, mengimport banyak dokter dari Kuba, serta menggratiskan klinik-klinik bagi rakyat, tentu biaya pengobatan dan dokternya tidak betul-betul gratis, tapi semua ditanggung negara dari hasil produksi minyak. Luar biasa bukan? Belum lagi Chavez memberikan subsidi perumahan, memberikan subsidi makanan, dll.

Demi mengurangi pengangguran dan kemiskinan, Chavez juga terus merekrut banyak sekali pegawai perusahaan produsen minyak di Venezuela bernama PDVSA (Petróleos de Venezuela S.A.) kayak Pertamina, lah, gitu. Ribuan orang direkrut masuk ke dalam perusahaan PDVSA tanpa melalui proses seleksi yang jelas. Terlepas produksi minyak sedang stagnan atau menurun, ribuan orang terus dipekerjakan di PDVSA. Ribuan orang sengaja diterima tanpa proses seleksi kemampuan, semata-mata supaya mereka bisa mendapatkan gaji PDVSA yang sangat besar dengan harapan “terangkat dari jurang kemiskinan”.

Di sisi lain, Chavez juga memberlakukan kebijakan untuk menasionalisasikan perusahaan-perusahaan swasta, dari yang skala kecil hingga skala besar. Dari perusahaan listrik, air ledeng, telepon, semen, peternakan, pertanian, perbankan, pemberitaan media, dll. Bukan cuma perusahaan besar, tetapi toko-toko kecil juga banyak yang diambil alih oleh pemerintah. Kalau dalam konteks Indonesia, mungkin lo bisa membayangkan jika pemerintah menasionalisasikan bank-bank swasta dan juga industri pertanian dan peternakan di daerah-daerah. Otomatis, semua karyawan swasta berubah menjadi PNS yang gajinya dibayar melalui APBN. Chavez praktis sedang memusatkan semua kegiatan ekonomi ke tangan pemerintah Venezuela, sementara sektor swasta semakin sedikit dan insignifikan jumlahnya.

Bagi Chavez, cara untuk menciptakan keadilan sosial adalah dengan mengendalikan sebanyak mungkin kegiatan ekonomi. Dalam pandangan Chavez, para pengusaha yang menciptakan usaha sektor swasta itu cuma akan menciptakan ekonomi yang tidak adil, yang merugikan rakyat miskin. Pemikiran ini namanya paham “Statisme” (State = negara) dimana negara berupaya mengambil alih segala bentuk kegiatan ekonomi seluas-luasnya dari yang skala besar hingga terkecil.

Semua kebijakan Chavez yang radikal ini juga dibumbui slogan-slogan perjuangan, seperti “Perjuangan melawan penjajah asing kapitalis bernama Amerika Serikat”. Bahkan di sidang PBB 2006, Chavez dengan sengaja menyatakan bahwa presiden AS waktu itu, George W. Bush, “Iblis berbau belerang”. Bagi mereka yang pemerhati politik luar negeri sih tahu bahwa Chavez ini cuma beretorika saja untuk tampil gagah di hadapan rakyatnya. Padahal, toh semua orang tahu, bahwa konsumen utama minyak Venezuela yang diproduksi PDVSA itu ya Negara Amerika Serikat.

Kedengarannya semua itu bagus. Efek jangka pendeknya terlihat bagus: rakyat miskin Venezuela berkurang banyak, orang² miskin jadi mendapat pelayanan kesehatan, bensin murah membuat segalanya jadi murah. Chavez memangkas angka kemiskinan: dari 60% menjadi 30%. Chavez adalah pahlawan rakyat. Sayangnya semua itu ada harganya.

Perhatikan semua kebijakan Chavez di atas, semua sektor dibebankan pada dana APBN pemerintah. Dari gaji pegawai bank sampai petani, semua digaji negara. Sementara itu, bukan berarti negara punya uang tidak terbatas, penghasilan negara juga ada batasnya. Satu sektor yang menjadi batu tumpuan bagi penghasilan negara Venezuela sudah bisa lo tebak, yaitu penjualan minyak bumi ke seluruh dunia! Masalahnya, itu menjadi satu-satunya andalan pemerintah untuk menjaga semua kesetimbangan ekonominya.

Sumber pendapatan negara Venezuela, 95% berasal dari laba ekspor minyak bumi PDVSA. Kalau di negara lain, tentu penghasilan utama negara bersumber dari pajak. Pajaknya dapat dari siapa? Sebagian besar ya dari pengusaha-pengusaha yang memutarkan ekonomi dari sektor swasta. Sayangnya, kebijakan Chavez menasionalisasikan perusahaan swasta membuat Venezuela hampir tidak punya penghasilan dari sektor pajak. Perusahaan-perusahaan yang seharusnya menjadi sumber penghasilan pajak negara, malah menjadi beban pemerintah untuk menggaji semua karyawan dan mengoperasikan perusahaannya.

Akibatnya bisa ditebak, pengeluaran negara Venezuela membengkak, naik hingga 200%! Jika pada tahun 1998 pengeluaran pemerintah adalah $12,3 milyar USD, pada tahun 2008 pengeluaran Venezuela meroket hingga $37,47 miliar USD. Bahkan ketika harga minyak sedang tinggi-tingginya, anggaran negara Venezuela tetap defisit. Lalu bagaimana jika anggaran negara defisit? Jawabannya cuma satu, ya terpaksa berutang. Jadi biarpun harga minyak sedang mahal-mahalnya, utang negara Venezuela tetap bertambah. Sebetulnya tidak masalah negara punya utang, asal dialokasikan untuk sektor-sektor produktif agar pengembalian utangnya bisa terukur. Masalahnya, utang negara Venezuela malah dialokasikan untuk menambal kebijakan-kebijakan subsidi yang selama ini memanjakan rakyat Venezuela.

Gawatnya lagi, banyak negara dan lembaga keuangan yang berani memberikan utang kepada Venezuela dengan jumlah besar! Mereka semua berpikir “Harga minyak kan sedang tinggi, pasti Venezuela bisa mempertanggungjawabkan utang ini”. Semua orang memprediksi harga minyak ke depannya akan terus meningkat.

Ironisnya sejarah ekonomi terus terulang: tidak ada harga yang naik selamanya. Prediksi banyak orang salah. Harga minyak bumi terjun bebas pada tahun 2014. Mendadak, tragedi ekonomi terbesar sepanjang sejarah menerpa Venezuela.

Krisis Ekonomi di Venezuela: Dari Chavez ke Maduro

Pertengahan 2011, Hugo Chavez menderita kanker. Sejak saat itu, dia harus menghabiskan segenap waktu dan tenaganya untuk menjalani pengobatan hingga pada 15 Maret 2013, Hugo Chavez wafat. Seluruh negara berkabung. Ketika Venezuela masih dalam proses peralihan kekuasaan, harga minyak bumi terjun bebas tahun 2014. Otomatis laba PDVSA juga ikut terjun bebas, yang artinya penghasilan negara menurun drastis! Akibatnya semua sektor industri yang selama ini bertumpu mengandalkan sokongan dana dari pemerintah, runtuh kehilangan pegangan ekonomi.

Penerus Chavez, Nicolas Maduro, kelimpungan menghadapi kekacauan ini. Setahu Maduro, kebijakan Chavez itu berhasil selama bertahun-tahun. Jadi dia pikir semua masalah akan beres dengan meneruskan apa yang sudah Chavez kerjakan. Padahal kebijakan-kebijakan Chavez untuk mensubsidi rakyat, menasionalisasikan sektor swasta, serta terlalu mengandalkan satu sektor industri (minyak bumi) adalah bom waktu ekonomi. Pemerintah Venezuela mengalami defisit yang sangat besar.

Ingat defisit, apa solusinya? Utang! Masalahnya kali ini tidak sesederhana itu. Pada zaman Chavez, banyak negara mau meminjamkan uang pada Venezuela karena harga minyak sedang tinggi. Begitu harga minyak anjlok, tidak ada yang berani meminjamkan uang pada Venezuela. Maduro terpaksa menutup defisit dengan kesalahan yang sangat fatal: mencetak uang bolivar (VEF) sebanyak-banyaknya!

Apa yang terjadi jika pemerintah mencetak uang sebanyak-banyaknya? Jika masih ada yang berpikir kalau mencetak uang Rupiah adalah solusi memberantas kemiskinan, berarti lo belum paham prinsip dasar ekonomi. Untungnya Kak Meby sudah membahas dan menjawab tuntas kenapa mencetak uang yang membuat uang menjadi tidak berharga, nilai uang menyusut, harga-harga barang melambung naik, dan terjadilah yang namanya hiperinflasi.

Hiperinflasi atau inflasi tinggi di luar batas kewajaran terus menggerogoti perekonomian Venezuela, bahkan sampai saat artikel ini dibuat (Mei 2018). Industri perdagangan lumpuh, harga-harga barang melambung tinggi, mata uang bolivar jadi tidak berharga sama sekali.

Sejak 2014, inflasi mulai meningkat tajam, makin menggila di 2015, dan sudah di luar akal sehat begitu lewat 2016. Januari 2018, angka inflasi Venezuela sudah mencapai 4000%, artinya tertinggi di dunia saat ini! Akibatnya, semua kebijakan ekonomi Chavez berlandaskan NIAT BAIK untuk menyejahterakan rakyat malah berbalik menjadi senjata makan tuan. Kemiskinan dan kelaparan melonjak tinggi. Harga barang yang terus naik membuat semua orang menyerbu toko, semua orang berupaya menimbun bahan pokok karena takut harga naik lagi besok! Bayangkan saja, setiap hari bahkan setiap jam, harga beras, kentang, dan telur naik!

Ironisnya, produksi minyak PDVSA yang selama ini menjadi andalan utama mereka terus menerus turun, sampai-sampai Venezuela harus mengimport minyak untuk memenuhi kebutuhan minyak dalam negeri Venezuela!

Ini semua pasti Konspirasi Asing!

Menghadapi masalah sebesar ini, Maduro yang sudah kehabisan akal akhirnya melakukan hal yang paling sering dilakukan politikus yang kehabisan akal: mencari kambing hitam! Untuk memilih kambing hitam ini sangat mudah: Ini pasti konspirasi asing yang mencoba menyabot negara Venezuela!

Semakin terdesak, Maduro menindak tegas semua orang yang mencoba memprotes kebijakan-kebijakannya, melabeli mereka sebagai “antek-antek asing” hingga memenjarakan para tokoh oposisi pemerintah. Akibatnya, sampai Mei 2018 ini, ibukota Venezuela, Caracas, masih terus menerus dilanda demonstrasi dan bentrokan antara rakyat dengan petugas keamanan Venezuela. Di saat bersamaan, hiperinflasi masih terus berlanjut, toko-toko di Venezuela masih kosong melompong. Tidak ada tanda-tanda Maduro akan menutup defisit.

Hiperinflasi di Bolivia (1983 – 1985)

Dari Venezuela, kita mampir ke Bolivia. Negeri Bolivia adalah negeri yang “menantang”. Dengan ketinggian rata-rata 1.192 meter di atas permukaan laut dan tidak memiliki pantai. Walaupun sampai hari ini Bolivia tidak bisa disebut negeri kaya. Namun, Bolivia pernah menghadapi masalah yang mirip dengan apa yang dialami oleh Venezuela, yaitu hiperinflasi pada tahun 1983-1985.

Masalah Bolivia dimulai dari ketidakstabilan politik sejak 1979 sampai 1985. Gonta-ganti pemerintahan dan bentrokan banyak kubu politik antar pihak oposisi dengan pemerintahan yang terlalu sering di masa tersebut membuat pengusaha lokal maupun asing takut untuk membuka usaha. Di sisi lain, satu hal yang semakin membuat kasus Bolivia mirip dengan Venezuela adalah, kebijakan subsidi!

Carut-marut politik yang berkepanjangan selama 6 tahun membuat para politikus menjual janji kepada rakyat Bolivia semakin tidak masuk akal, salah satunya ya kebijakan subsidi untuk memanjakan rakyat. Di sisi lain, perseteruan politik membuat negara tidak produktif yang berujung pada defisit anggaran. Ingat apa rumusnya defisit anggaran? Berutang pada negara lain! Awalnya memang bank-bank luar negeri & IMF bisa menambal kekurangan ini, tapi ketika kekacauan politik tak mereda, dan utang lama belum terbayar, merekapun menolak meminjamkan utang baru.

Anggaran defisit, utang membengkak, tidak ada yang mau memberikan utang. Terus apa yang dilakukan pemerintah Bolivia? Lagi-lagi kesalahan fatal yaitu mencetak uang peso! (mata uang Bolivia pada saat itu masih Peso, sekarang mata uangnya Boliviano) Pastinya lo bisa menebak apa yang selanjutnya terjadi begitu bank sentral mencetak uang sebanyak-banyaknya? Nilai mata uang menyusut, harga barang melambung tinggi, terjadilah krisis ekonomi yang dipicu hiperinflasi!

Tingkat inflasi mencapai 300% antara Oktober 1981 hingga Oktober 1982. Inflasi ini juga membuat pajak yang dibayar rakyat menjadi tak ada artinya, mengurangi pemasukan pemerintah Bolivia dan memperparah defisit. Jangan lupa juga utang-utang luar negeri yang diambil pemerintah Bolivia ada bunganya juga. Otomatis bunga utang tersebut menambah pengeluaran, sehingga semakin memperparah defisit.

Situasi makin sulit ketika upaya-upaya pemerintah untuk memperbaiki ekonomi Bolivia selalu ditentang oposisi politik dan didemo besar-besaran oleh rakyat pendukung partai oposisi. Tidak sedikit solusi yang diajukan pemerintah ditampik oleh partai oposisi pada keputusan DPR, atau terkadang oleh pejabat pemerintah sendiri.

Salah satu indikator hiperinflasi adalah rontoknya nilai mata uang Bolivia, Peso, terhadap US Dollar. Pada Juni 1983, $1 USD sebanding dengan 5000 Peso. Pada Januari 1984, sebanding dengan 10.000 Peso. Pada Juni 1984, sudah sebanding dengan 50.000 Peso. Desember 1984 sudah meloncat ke 250.000 Peso, dan Juli 1985, $1 USD sama dengan 2 juta Peso. Pada puncaknya inflasi Bolivia pada bulan Mei-Agustus 1985 mencapai 60.000%.

Inflasi di Bolivia semakin tidak masuk akal. Harga barang terus naik gila-gilaan, bahkan harga di pagi hari sudah berbeda dengan harga di siang hari! Uang yang ada di kantong masyarakat tidak ada artinya lagi, dan setiap detik berlalu uang tersebut semakin tidak berarti. Ini artinya, tabungan di bank sudah tak ada artinya. Apa artinya uang tabungan 2 juta Peso kalau cuma cukup buat beli roti kecil? Kriminalitas merajalela. Penjarahan terjadi dimana-mana. Semua toko diserbu oleh semua orang, sebab semua orang tidak mau menyimpan uang. Semua orang buru-buru menghabiskan semua uang yang ada di kantong mereka. Uang begitu melimpah tapi tidak ada artinya, uang menjadi cuma kertas tidak berharga! Lebih baik menyimpan beras atau telur daripada menyimpan uang!

Bentrokan demonstran dengan pihak keamanan Bolivia saar krisis ekonomi 1985

Keajaiban ekonomi terjadi menyelamatkan Bolivia

Pada 29 Agustus 1985, pemerintah Bolivia mengumumkan sebuah kebijakan drastis untuk menghentikan hiperinflasi. Kurang dari seminggu, hiperinflasi berakhir. Harga-harga berhenti naik. Akhirnya, semua harga stabil. Keadaan kacau-balau yang begitu menyengsarakan rakyat cuma dalam hitungan hari berakhir. Sebuah keajaiban ekonomi yang sulit untuk dipercaya. Lho, kok bisa?

Setelah meminta saran dari Profesor Jeffrey Sachs, salah satu pakar ekonomi Amerika Serikat, pemerintah Bolivia akhirnya memutuskan menghapus subsidi BBM dan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM). Ketika kebijakan ini diusulkan, banyak orang yang heran:

“Lha, kalau harga BBM naik bukannya malah memicu kenaikan semua harga? Semakin naik inflasinya dong?”

Itulah yang dipikirkan banyak pejabat, dan orang-orang awam yang belum paham hukum ekonomi. Namun faktanya, kebijakan inilah yang menyelamatkan Bolivia dan kehancuran ekonomi karena hiperinflasi.

ditulis ulang oleh ~ Pak Rt


sumber FB MARCEL SUSANTO

#Islam
#BeritaIslami
#Sunnah
#Qur'anHadist
#Tuntunan
#Islamnusantara
#PIN
#BelaIslam
#Aqidah
#ASWAJA
#pejuangislamnusantara
Pak Rt

Pak Rt

Salah Satu Penggiat Sosial Media, yang selalu mengedepankan informasi benar terpercaya. sebagai wahana Dakwah dan memerangi HOAK .

Post A Comment:

0 comments: